Membangkitkan Perekonomian Bangka Belitung yang Lesu

Seperti yang kita ketahui  komoditi adalah penggerak terbesar  perekonomian bangka belitung .Masyarakat Bangka Belitung banyak bekerja di sektor pertambangan dan perkebunan . Karet , sawit ,lada dan timah adalah komoditi unggulan Bangka Belitung. Namun sangat disayangkan dalam 1 dekade terakhir komoditi lada telah ditinggal oleh masyarakat Babel. Banyak yang beralih profesi menjadi penambang timah inkonvensional.  Memang wajar masyarakat Babel beralih profesi menjadi penambang karena keuntungan yang mereka peroleh lebih BESAR dan CEPAT.  Penambang bekerja pagi2, soreh mereka membawa pulang pasir timah mereka untuk di jual.  Tidak seperti perkebunan karet , sawit dan lada , harus menunggu beberapa tahun sampai panen .

Seiring meningkatnya harga timah yang di mulai pada tahun 2005, penambangan timah dilakukan secara besar-besar2an oleh masyarakat Babel. Impor alat berat atau excavator yang digunakan untuk membantu aktifitas pertambangan meningkat drastis. Bukan hanya alat berat saja , tenaga kerjapun di  impor dari luar kota. Banyak orang2 jawa yang datang kebangka untuk bekerja di sektor pertambangan dan turunannya seperti peleburan timah, kuli angkut timah dll.

ti

Tambang timah mau tidak mau harus diakui sebagai penggerak terbesar perekonomian Babel. Jika harga timah jatuh atau sedang terhentinya aktifitas pertambangan karena penertiban oleh polisi seperti yang terjadi pada saat ini maka perekonomian masyarakatpun melemah, pasar sepi bahkan ada nelayan yang kesulitan menjual ikannya karena tidak ada pembeli.  Kondisi seperti ini memang sangat menyedihkan, baru sekitar 1 bulan aktifitias pertambangan berhenti , ikan yang di jual oleh nelayan sepi pembeli, buah2an yang di jual teman saya banyak yang busuk karena tidak laku, salon pun sepi . Toko acau buah segarCoba kalian bayangkan apa yang terjadi jika aktifitas pertambangan terhenti selama 3 bulan? Saya yakin banyak sekali laki2 yang berambut gondrong karena menunda pergi ke salon .

Pertambangan timah sudah banyak berjasa pada perekonomian masyarakat Babel. Sejak ada pertambangan timah, masyarakat disini hidup sejahtera. Dari penghasilan tambang mereka bisa membangun rumah mewah, membangun gedung walet, membeli mobil  &motor,  memberi pendidikan kepada anak sampai ke perguruan tinggi,  membeli lahan perkebunan, mendirikan mesjid mewah. Bagi saya sektor pertambangan itu seperti infus untuk yang dipakai menopang prekonomian Babel yang sedang sakit, begitu infus dicabut, perekonomian hancur. Masyarakt Bangka menjadi terlena dengan keuntungan jangka pendek, mereka begitu tergantung dengan pertambangan timah sebagai mata pencahariaan utama sehingga melupakan sekotor lain, bayangkan sampai sayuran harus diimpor dari Palembang. Babel akan merana jika timah semakin berkurang dan habis, kemiskinan akan meningkat dan kerusakan lingkungan akan menjadi bencana.

Mengapa saya kata bahwa perekonomian babel sedang sakit?  Coba perhatikan data-data berikut ini, data2 ini saya  peroleh dari apa yang saya lihat dan alami dengan mata kepala saya sendiri :

  1. Excavator, mesin-mesin disel untuk pertambangan semuanya adalah barang impor dari luar negri.
  2. Pekerja tambang kebanyakan adalah pendatang dari  Jawa,  Palembang dan kota2 lainya sementara penduduk asli kebanyakan menjadi pemilik tambang.
  3. Karyawan yang bekerja di tempat pemurnian timah (kolektor)dan peleburan timah (smelter) kebanyakan pendatang dari luar Bangka, sementara pemilik usaha pemurnian penduduk lokal dan untuk smelter kebanyakan lokal dan investor luar.
  4. Pekerja bangunan yang membangun gedung walet, rumah, mesjid , jalan  dan juga kontraktornya hampir semua pendatang dari luar kota juga.
  5. Sayur –sayuran dan buah2an banyak berasal dari luar kota.
  6. Hampir semua wanita  pekerja hiburan malam berasal dari luar kota.
  7. Mobil dan motor juga impor.
  8. Material bangunan seperti besi, semen, seng dll juga impor dari luar kota.
  9. Karywan di perkebunan sawit rata2 berasal dari luar kota, sementara pemilik kebun sawit perorangan kebanyakan penduduk lokal dan untuk sekala PT investornya kebanyakan dari luar kota.
  10. Karyawan yang menyadap karet juga banyak yang berasal dari luar kota sementara pemilik kebun kebanyakan masyarakat lokal.

Data- data di atas menunjukan bahwa Babel selama ini dijadikan pasar untuk menjual produk-produk impor dan ladang untuk mecari pekerjaan. Penduduk lokal bisa menjadi pengusaha tambang dan kebun sementara karyawannya kebanyakan pendatang. Memang masyarakatnya kelihatan sejahtera. Karyawan tambang mendapatkan gaji, gaji ini ditabung. Setiap menjelang lebaran karyawan tambang membawa pulang tabungannya untuk anak dan istri, ada juga melalui tranfer ke rekening keluarga setiap bulan. Bagaimana dengan pemilik usaha tambang ,pemurnian, peleburan, perkebunan? Mereka mendapatkan keuntungan dari bisnis timah dan kebun, keuntungan tersebut mereka gunakan untuk kebutuhan primer dan sekunder yaitu  rokok, beras, sayur2an, buah2an , membangun rumah, membeli mobil dan motor, pergi kehiburan malam (hobi karyawan saya),berwisata keluar kota dan ke keluar negri, ada yang berinvestasi di bursa saham, properti di Jakarta dll. Uang yang mereka peroleh juga mengalir ke luar kota.
Dari cerita di atas saya bisa menyimpulkan  UANG  yang di peroleh dari penjualan balok timah masuk ke BABEL sifatnya sementara,  dalam sekejab UANG tersebut kebanyakan keluar lagi dari Babel. Begitu pertambangan terhenti , perekonomian hancur, pasar menjadi sepi pembeli. Uang yang masuk ke Babel  hanya dari hasil ekspor komoditi perkebunan, itupun kebanyakan pemilik kebun adalah investor dari luar Babel.  Para pekerja beserta tabungannya meninggalkan BABEL. Begitu juga dengan pekerja hiburan malam, perkerja bangunan dan kontraktornya  pergi meninggalkan BABEL berserta tabunganya.Uang ini mereka gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari –hari di kampung halaman masing2, toko – toko di kampung  halaman mereka meningkat penjualannya karena medapatkan pelanggan baru.  Ada juga yang menggunakan tabungannya untuk membuka usaha,  usaha yang mereka buka tentu menyerap lapangan pekerjaan di daerah mereka.

Bagaimana dengan penduduk Bebel?   Banyaknya  uang yang keluar dari pulang Bangka menyebabkanpenduduk lokal sulit untuk mencari uang di dalam kota karena jumlah uang yang beredar sedikit.  Penduduk lokal yang mencari uang di luar sektor pertambangan seperti perdagangan dan jasa  menjadi lesu karena penduduk lokal yang lain berhemat. Contoh pedagang kecil yang biasa menjual sayur, ikan , buah sepi pembeli karena penduduk lokal berhemat sementara pendatang sudah pergi keluar kota. Mental penduduk lokal yang selama ini adalah mental pengusaha akan sangat terpukul jika harus beralih profesi  menjadi petani sawit atau karet. Jika tidak sanggup menggaji karyawan, mau tidak mau mereka  harus menjadi karyawan di kebun sendiri.  Pengangguran akan meningkat selama masa transisi dari pemilik tambang menjadi pekerja keras dikebun sendiri. Bayangkan selama ini penduduk lokal menjadi bos ,sekarang harus bekerja keras di kebun sendiri, sama seperti jatuh dari surga ke neraka. Kemiskinan akan bertambah. Lama kelamaan Babel mengekspor kuli ke luar kota.  Karena itulah saya menyebut perekonomian Babel sekarang sedang sakit.
Solusi untuk jangka pendek dengan berdomo  supaya polisi menghentikan penertiban hanya solusi untuk jangka pendek karena dikemudian akan ada penertiban kembali. Mengupayakan legalitas adalah solusi jangka menengah karena timah bisa berkurang dan habis itupun jika legalitas bisa terbit.Menurut pengalaman saya legalitas atau perizinan tambang hanya untuk penambang skala besar seperti Kapal hisap yang investornya adalah mayoritas investor asing. Untuk masyarakat kecil tidak ada legalitas. Menurut saya  solusi jangka panjang agar bangka tidak menjadi kota mati karena ditinggal penduduknya adalah dengan diversifikasi ke sektor lain, seperti
1.    Sektor perkebunan: sawit, ubi, lada, karet dll .Saat karet murah  ada sawit sebagai penyelamat, saat sawit dan karet murah masih ada ubi dan lada.
2.    Sektor perikanan dan kelautan:  Babel punya banyak kolong2 bekas penambangan timah, cocok sekali untuk pengembang biakan ikan air tawar.  Di pantai2 cocok sekali untuk budidaya rumput laut. Komoditi rumput laut bersifat padat karya yang artinya banyak menyerap lapangan pekerjaan.  Rumput laut membutuhkan modal yang kecil  dan bisa di panen 2-3 bulan. Karakteristik rumput laut berbeda dengan sawit , karet dan lada. Jika sawit murah , mau tidak mau pohon sawit harus tetap di rawat, tidak mungkin sawit di cabut dan diganti dengan tanaman lain mengingat investasi di awal sangat besar. Berbeda dengan rumput laut yang bisa di panen 2-3 bulan. Jika rumput laut murah , komoditi ini bisa langsung ditinggalkan . Jadi selama ada yang menanam rumput laut artinya komoditi ini
menguntungkan.
agarindo bogatama

PT Agarindso Bogatama adalah salah satu perusahaan agar-agar yang berlokasi di Tanggerang. Tahun lalu, total kebutuhan rumput laut Agarindo mencapai 18.000 ton. Kebutuhan ini dipasok dari petani rumput laut di Makassar sebanyak 14.000 ton dan 4.000 ton berasal dari Jawa Barat.  Bayangkan jarak dari Makassar ke Tanggerang lebih jauh berkali-kali dari Babel ke Tanggerang. Kita penduduk Babel mengapa tidak menggunakan peluang ini untuk membudidayakan rumput laut?????

3.  Manfaatkan Pariwisata Sebagai Sumber Devisa Selain Sumber Daya Alam. Hei orang Babel, saatnya mulai sadar! Sumber daya alam di Pulau kita ini sudah semakin berkurang! Tinggal menunggu waktu saja kita tidak bisa banyak menjual Sumber Daya Alam untuk menjalankan roda perekonomian.  Kita harus mulai memikirkan sumber penghasilan lain yang berkelanjutan untuk memajukan negara. Menurut saya sektor pariwisata adalah sektor yang paling menarik untuk dikembangkan mengapa? Karena orang membawa uang dari luar kota atau luar negri ke dalam Babel , bahasa kerennya sebagai sumber devisa yang berkelanjutan. Misalnya turis asal Jepang datang berwisata ke Babel tentu dengan naik pesawat. Sampai di Babel turis ini menyewa hotel. Selama di Babel  turis ini membutuhkan makan, minum dan transportasi . Belum lagi oleh2 yang mereka beli di Babel . Industri penerbangan, perhotelan , transportasi ,jasa dan perdagangan sangat diuntungkan dengan kehadiran turis ini.

Saya punya seorang teman yang saat ini ada di Swiss dia bercerita tentang indahnya kota Swiss. Banyak turis dari asia terutama China yang datang ke sana. Turis asal China di kenal “OKB”. Kata tour leadernya orang China banyak yang OKB (Orang Kaya Baru) karena pemerintah membeli tanah mereka dan mereka dapat pengganti yang banyak. Mereka bingung uangnya mau diapakan akhirnya digunakan untuk  jalan-jalan. Di Swiss mereka belanja yang branded2,  tas, jam tangan rolex yang harganya 20.000 euro atau sekitar 320 juta mereka sanggup beli. Bahkan ada toko jam yang menyiapkan karywan orang China untuk memudahkan komunikasi dengan turis asal China. Luar biasa turis- turis asal China. Swiss mendapatkan keuntungan yang besar dari turis2 China. Jika uang turis2 China ini habis, saat pulang ke China nanti tentu mereka akan mengurangi belanja hal2 yang konsumtiff dan cenderung berhemat untuk menabung kembali  . Dengan demikian daya beli mereka berkurang, hal ini tentu merugikan perekonomian negara mereka sendiri tapi bagi pedang-pedagang di Swiss masa bodoh dengan perekonomian negara orang , yang penting barang dangangannya laku.belitung

Sadar tidak kalau Babel ini mempunyai banyak sekali potensi pariwisata. Ada berapa banyak tempat wisata yang bisa dikelola dengan baik. Sehingga bisa diperhitungkan sebagai sumber devisa yang berkelanjutan. Manfaatkan AFTA 2015 ini untuk bisa mendapatkan banyak turis asing yang mau datang ke Indonesia. Kalau dikelola dengan benar, mungkin negara ini bisa kaya hanya dengan pariwisatanya. Jangan mau kalah dengan Singapore dan Malaysia.

Sekian dulu artikel dari saya, dari kecamatan parit 3 jebus, saya mengucapkan jaga kesehatan,  tabungan dan investasi anda baik-baik.

 

This entry was posted in Investasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>