Cara Menghemat Pupuk Kelapa Sawit

Jika di artikel sebelumnya membahas cara supaya kelapa sawit tidak perlu di pupuk selama dua tahun. Dalam artikel kali ini saya akan membahas cara menghemat pupuk kelapa sawit dengan menggunakan pupuk Tithonia diversifolia (bunga matahari meksiko).

thitonia

Tithonia merupakan salah satu sumber pupuk hijau yang murah. Tanaman ini dapat memperbanyak diri secara generatif dan vegetatif, yaitu dari akar dan stek batang atau tunas sehingga dapat tumbuh cepat setelah dipangkas , dapat di panen dalam 2 bulan untik dibuat kompos. Dapat tumbuh disembarang tempat, tidak perlu perawatan khusus.

Tithonia diversifolia yang dulu dianggap gulma. Di perakaran titonia ternyata hidup jutaan cendawan dan bakteri pelarut kalium dan fospat. Sebut saja bakteri kelompok Azotobacter sp dan Azospirillum sp. Mahluk supermini itu melarutkan kalium dan fospat yang umumnya mengendap dalam tanah serta menambat nitrogen dari udara.
Anggota keluarga Asteraceae itu pun muncul menjadi tanaman ajaib. Ia mampu menolong pekebun yang kesulitan pupuk buatan pabrik karena langka dan mahal. Belakangan terungkap bakteri di zona perakaran titonia juga menghasilkan fitohormon seperti auksin, giberelin, dan sitokinin. Akar tithonia juga terinfeksi cendawan mikoriza yang mampu memperluas zona perakaran. Mikoriza ibarat penambang hara sehingga tanaman efektif menyerap hara.
Serangkaian riset di Universitas Andalas, Padang, selama 11 tahun membuktikan titonia tak sekadar pupuk hijau biasa. Anggota keluarga kenikir-kenikiran itu mengalahkan pupuk hijau dari keluarga legum yang kaya rhizobium bakteri penambat N. Selama ini keluarga legum disebut pupuk hijau terbaik. Kini tithonia—dengan mikoriza, azospirillum, dan azotobacter—lebih unggul karena menyediakan nitrogen, kalium, fosfat plus fitohormon sekaligus.

 

Daun Tithonia kering mengandung unsur N 3,5-4%;    P 0,35-0,38%;   K 3,5-4,1%; Ca 0,59%, dan Mg 0,27%. Dalam satu hektar atau 10.000 meter menghasilkan 10 ton kering/hektar/tahun. Setara dengan 350 kg N , 40 kg P,  400 kg K . 60 Kg Ca, 30 kg Mg.  Dengan menanam tithonia 1 hektar artinya  petani sawit dapat menghemat pupuk kimia senilai minimal 8,7 juta rupiah pertahun. Bagaimana saya bisa tau penggunaan tithonia dapat menghemat 8,7juta pertahun? Perhitungannya sebagai berikut:

Diketahui Harga pupuk  di toko pupuk  di kecamatan parit 3 Jebus Bangka  April 2014 sebagai berikut:

Urea (mengandung 54% Nitrogen) :  Rp 265.000/karung

KCL (45% Kalium)        :                   Rp 290.000/karung

TSP (46% Phospor P2O5)      :         Rp   90.000/karung.

Diketahui juga kandungan thitonia 10 ton kering sebagai berikut

N       : 350 Kg

P       : 40   Kg

K       : 400 Kg,     Mg: 30 kg, Ca : 30 Kg.

Untuk membuat pupuk N sebanyak 350 kg di butuhkan urea:  (100:54)x350 =648 kg urea atau setara dengan 12,9 karung (1 karung 50 kg). 12,9 karung urea x 265000 = 3.445.000

Untuk membuat pupuk P 40 kg dibutuhkan TSP : (100:46)x40= 86,9 kg tsp/50 kg = 1,7karung kcl x 90000 = 153.300

Untuk membuat pupuk K 400 kg dibutuhkan KCL: (100:45)x400 = 888,8kg/50kg=17,7 karung kcl x 290000= 5.133.000.

Dari 3 macam pupuk diatas jika dijumlahkan 5.133.000+153.300+3.445.000 =  8.731.300.  Dalam setahun kita bisa menghemat penggunaan pupuk kimia senilai minimal 8,7 juta. Belum lagi ditambah dengan kuntungan yang tidak bisa diukur misalnya penyerapan pupuk organik mencapai 65% sementara pupuk kimia hanya 40%, sisanya menguap atau tercuci hujan. Penggunaan pupuk kimia membuat tanah menjadi keras, miskin hara dan tidak dapat menyerap air, lama kelamaan tanah menjadi masam. Untuk memperbaikinya dibutuhkan pengapuran sehingga memerlukan tambahan biaya.

 

Lebih Unggul
kandungan_thitonia

Penelitian di Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, juga menunjukkan thitonia lebih baik ketimbang pupuk kandang kotoran sapi dan kotoran ayam. Bahkan, thitonia itu lebih unggul daripada 100% pupuk pabrik. Tengok saja kombinasi 4 ton kompos titonia, 2 ton kapur, dan 50% pupuk pabrik yang biasa dipakai petani jagung, menghasilkan panen 9,8 ton biji/ha. Sementara tanpa titonia dengan 100% pupuk pabrik hanya 9,6 ton biji/ha. Artinya, titonia mampu menghemat 50% pupuk pabrik tanpa mengurangi hasil.
Hasil jagung memakai titonia itu jauh lebih tinggi daripada panen pekebun di daerah setempat yang hanya 4,6 ton biji/ha. Maklum, pekebun di sana umumnya belum mengenal kapur dan kompos titonia dalam menanam jagung. Ketika titonia pada kombinasi itu diganti 5 ton kotoran sapi dan 5 ton kotoran ayam, maka hasil panen masing-masing hanya 7,9 ton dan 9,2 ton.Riset lain pada melon, padi, dan sawit pun menunjukkan hasil serupa: titonia lebih unggul daripada kotoran sapi, kotoran ayam, dan 100% pupuk pabrik. Ia juga dapat menghemat 50% pupuk pabrik.

Laporan beragam riset itu jelas kabar gembira buat pekebun. Selama ini penyediaan kotoran sapi dan kotoran ayam sebagai pupuk organik jadi kendala karena pasokan terbatas. Hanya kebun yang berdekatan dengan peternakan saja yang mudah memperolehnya. Mengangkut 5 ton, setara 1 truk, pupuk kandang dari peternakan ke kebun menjadi lebih mahal dibanding pupuk pabrik yang lebih sedikit, 100—200 kg. Berbeda dengan titonia yang dapat ditanam di sekeliling kebun dan dipanen setiap 2 bulan.

KESIMPULAN

Cara penggunaan thitonia dapat di komposkan terlebih dahulu selama 2 minggu atau pembenaman langsung pangkasan segar kedalam tanah  dan diinkubasikan dengan tanah selama 4 minggu. Dikompkan terlebih dahulu atau langsung pada tanaman, hasil produktifitas kurang lebih sama. Tanaman (Tithonia diversifolia) juga mempunyai laju dekomposisi yang cepat. Pelepasan N terjadi sekitar 1 minggu dan pelepasan P dari biomassa tanaman terjadi sekitar 2minggu setelah dimasukkan ke dalam tanah (Jama et al ., 1999)

Dengan melihat aplikasi manfaat thitonia diatas saya bisa menarik kesimpulan bahwa thitonia juga memiliki kekurangan yang itu sebagai berikut yang bisa saya simpulkan :

  1. Dibutuhkan biaya tenaga kerja untuk memotong , membenamkan thitonia dalam tanah , mengomposkan thitonia.Sama halnya dengan menggunakan pupuk kompos seperti  kotoran sapi, misalnya 1 truk kotoran sapi setara 5 ton jelas membutuhkan  karyawan untuk mengangkut dari truk sampai mengaplikasikan pada tanah.Di bandingkan pupuk kimia yang tinggal tabur, jelas lebih praktis dan efisien dalam hal tenaga kerja.
  2. Karena penggunaan thitonia yang membutuhkan tenaga kerja, thitonia cocok untuk petani sawit sekala kecil dan bemodal pas-pasan.  Jika satu orang bisa mengurusi lahan sawit seluas 4-7 hektar, 8 jam kerja perhari. Maka petani yang punya sawit 2-3 hektar jelas memiliki kelebihan waktu luang. Kelebihan waktu luang ini bisa digunakan untuk mengurusi thitonia.
  3. Cocok sekali untuk lahan-lahan kristis dan asam. Seperti yang kita ketahui lahan-lahan di Bangka banyak yang kritis akibat tambang timah. Bekas lahan tambang timah ini bisa disuburkan kembali dengan thitonia.

 

Artikel tentang thitonia ini pernah di publikasikan di koran Bangka Pos 7 Juli 2012, oleh Asmarhansyah Balai Pengkajian Teknologi Pertania (BPTP) Kepulauan Bangka Belitiung  Jalan Mentok Km 4 Pangkal Pinang.  Saya pernah mengutus karyawan ke BPTP Pangkal Pinang untuk mencari bibit thitonia , namun sangat disayangkan BPTP tidak punya bibitnya, hanya bisa publikasikan artikel dengan copy paste dari internet.

thitonia_bangkapos

This entry was posted in Perkebunan. Bookmark the permalink.

Comments are closed.